Pengelompokan Santri Pondok Sesuai Kategorinya

 

Yayasan Pesantren Bina Mandiri Al-Qodiriyah memiliki berbagai macam lembaga, baik formal, informal, maupun non formal. Mulai lembaga pendidikan maupun lembaga ekonomi dan kesehatan. Mulai lembaga yang bersifat keagamaan maupun lembaga yang bersifat ekonomi dan pekerjaan, mulai di dalam lokal banyuwangi maupun cabang-cabangnya di luar jawa, semua ada walaupun sebagian lembaga sudah ada yang sangat maju maupun sebagian ada lembaga yang masih tahap perintisan.

Berkumpulnya berbagai macam lembaga tersebut dalam sebuah organisasi tentunya sangat rumit dan merepotkan bila tidak dikelola dengan management profesional. Diantara usaha untuk mengharmoniskan berbagai macam lembaga dengan berbagai macam kegiatannya adalah pengklasifikasian program dan agenda kegiatannya.

Santri dengan spesifikasi keagamaan yang menjadi prioritasnya akan dibedakan asramanya dengan santri yang memprioritaskan keilmuan umum. Santri dengan biaya penuh dari orang tua asramanya akan dibedakan dengan santri yang mondok sambil bekerja. Santri anak-anak asramanya akan dibedakan dengan santri yang sudah dewasa.

Disamping itu santri SD/MI asramanya akan dipisahkan dengan santri SMP, SMK, dan S1. Santri yang mukim akan dipisahkan dengan santri yang hanya sekolah. Dan santri putri asramanya akan dipisah dengan santri putra. Santri yang berprestasi akan dipisah asramanya dengan santri dengan program reguler. Santri yang menghafalkan Al-Qur’an akan dipisah dengan santri yang tidak menghafalkan Al-Qur’an.

Beberapa alasan kenapa harus ada pemilahan kriteria santri, Pertama, para santri yang berbeda tempat khususnya santri putra dan santri putri. Perbedaan antara santri putra dan putri itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kedua, antara santri dengan anak luar pondok di dalam kegiatan sekolah (formal), mereka berkegiatan tidak dicampurkan, bertujuan untuk tidak ada kontak, biar saling fokus dalam kegiatannya sendiri-sendiri, karena di bidang pelajaran pun sudah berbeda. Jadi pondok pun memberikan tempat, ruang lingkup atau gedung sekolah yang berbeda.

Ketiga, antara anak kecil dengan remaja dipisah karena dikhawatirkan ada pengaruh negatif dari prilaku negatif oknum anak-anak yang sudah remaja terhadap anak-anak kecil yang masih polos, dan dikhawatirkan adanya intimidasi dari anak-anak dewasa kepada anak kecil.

Keempat, para santri yang bekerja, mereka diberi tempat tersendiri untuk mengerjakan pekerjaannya terutama para santri yang bekerja kerajinan, tetapi mereka diperbolehkan melakukan pekerjaannya di luar kegiatan pondok, waktunya kegiatan harus mengikuti kegiatan layaknya santri yang lain. Biar mereka di samping bekerja mereka bisa menuntut ilmu.

Kelima, santri yang di dalam pondok dipisahkan, antara santri yang masih sekolah SD, SMA/SMK, dan santri yang tidak sekolah (non formal). Mereka diberi ruang lingkup tersendiri, agar mereka tidak saling mempengaruhi satu sama lain, dan mereka semua bisa fokus dalam belajarnya.

Keenam, santri yang di tunjuk oleh Pengasuh untuk menjaga kantin dan sekaligus memasakkan semua para santri, baik santri putra maupun santri putri. Seperti, melayani para santri untuk jajan, masak nasi, masak sayur, dan membuat lauk pauk. Dan mereka sering menerima titipan para santri. para santri biasanya menitip dengan kebutuhan sesuai yang dibutuhkan, karena para santri tidak diperbolehkan keluar pondok.

Ketujuh, para santri yang menjadi guru sekaligus mengurus data-data lembaga Pondok. Mereka ditempatkan di kantor pondok. Kegiatan mereka, pagi mengajar di sekolah layaknya guru-guru yang lain. Dan seusai itu berkegiatan di kantor melakukan tugas-tugasnya. Para santri yang ditugaskan di kantor adalah para santri yang sudah lama di pondok atau sudah lulus, dan siap mengabdi di pondok.

Kedelapan, santri dengan biaya reguler akan dipisah dengan santri dengan biaya premium. Faktanya tidak dapat dipungkiri selalu ada anak-anak dari latar belakang yang sangat mampu ingin anaknya mau untuk dipondokkan. Namun ketika di rumahnya failitas sudah terbiasa mewah sehingga ketika orang tuanya berharap anaknya tetap mau mondok maka orang tuanya biasanya merayu dengan diberi fasilitas pondok yang tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi rumah.

Maka pondok tetap menyediakan anak-anak dengan kategori seperti ini dengan tujuan pendidikan jangan sampai terhambat. Awalnya memang anak-anak orang kaya seperti ini dirayu dulu, namun ketika beberapa bulan setelah betah dipondok pada akhirnya secara perlahan juga mau hidup sederhana setelah melihat santri lainnya yang juga bisa hidup sederhana. Disamping itu hasil dari doktrin-doktrin yang diselipkan oleh pengasuh saat santri mengaji bersama.

“Pengelompokan itu di berikan pondok agar tidak terjadi benturan, para santri mengerti kegiatannya tersendiri, fokus dalam kegiatannya, biar tidak salah paham dan saling tanggung jawab, dan mudah diatasi bilaada masalah yang timbul”.

Reported by Alfan (A280117)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *