9 Ciri Khas Seorang Santri

Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober, marilah kita renungkan karakter santri. Berikut beberapa karakter utama yang dapat kita kenali dalam kehidupannya sehari-hari. Menurut Ustadz Mahrizal, berikut diantara karakter utama seorang santri;

Tawadhu

Seorang santri akan tawadhu meski berilmu tinggi, karena dia sadar apa yang dia tahu belum ada apa-apanya dibanding ilmu ulama para pendahulunya. Karena dia sering ngaji kitab dan sering menyelami samudra ilmu maka dia menyadari ilmunya yang sekarang tidak ada apa-apanya dan merasa malu jika disombongkan, sehingga santri meskipun sudah mondok 10 tahun akan tetap tawadhu, dan mengaku belum bisa apa-apa.

Patuh pada orang tua

Sebandel-bandel santri akan hormat dan patuh sama orang tua, terutama ibu. Sejengkel-jengkelnya santri sama orang tua tidak akan pernah membantah orang tua.

Takdzim sama guru

Santri menyadari bahwa setinggi apapun ilmu tidak akan manfaat kalau tidak rasa takdzim dengan guru. Ilmu boleh setinggi langit tapi kalau kurang ajar sama guru ilmunya tidak akan manfaat, itulah yang ditakutkan oleh santri, sebab cita-cita santri ialah ingin ilmunya manfaat. Maka takdzim dengan guru adalah pilar utama jika ingin ilmunya manfaat.

Santri menyadari meskipun dirinya bodoh tidak hafal ilmu tapi kalau takdzim sama guru, insya Allah ilmunya manfaat dan ada berkah dalam kehidupannya.

Santri menyadari pula bahwa gurulah yang mengenalkan dirinya akan Tuhannya. Allah sang Penguasa Alam raya, Nabinya Rasulullah tercinta, dan kewajiban pada orang tua, tidak boleh membantah harus patuh, dan kewajiban-kewajiban lain. Karena guru lah si santri tahu hukum2 agama, oleh karena itu lah santri akan sangat takzim pada gurunya.

Berakhlakul Karimah

Jujur, sopan santun, berkata lembut, adalah ciri khas santri. Bukan santri kalau tidak punya akhlak, masyarakat akan bertanya, santri kok begitu, santri kok seperti itu. Maka dimanapun santri ia mempunyai akhlakul karimah, pandai menghormati yang lebih tua, menghargai sesama dan menyayangi yang lebih muda.

Pantang baginya menyakiti hati orang lain karena itu bukan akhlak yang baik, bahkan bisa menyebabkan tidak mati khusnul khotimah, santri tahu itu karena ngaji sehingga berhati-hati dalam menjaga lisannya. Santri akan cium tangan dengan orang yang lebih tua, karena siapapun yang lebih tua wajib dihormati.

Tidak meninggalkan shalat

Senakal-nakalnya santri tetap takut meninggalkan shalat.

Tidak meninggalkan baca Al-Qur’an dan Wirid

Santri paham bahwa membaca Al-Qur’an bagian dari dirinya yang tidak terpisahkan. Dia merasa lebih dekat dengan Allah jika dia tidak meninggalkan membaca kalam-Nya.

Santri identik dengan wirid dan amalan-amalan. Karena santri sadar dirinya tidak akan lepas dari bergantung kepada Allah. Santri menyadari bahwa tangga untuk meminta kepada Allah agar cepat terkabul adalah dengan wirid-wirid dan amalan-amalan.

Santri pun merasa bahwa dengan mengamalkan wirid hidupnya akan berkah dan menjadi mudah, dengan keberkahan wirid. Apa itu wirid, wirid ialah dzikir yang diulang-ulang.

Punya akidah yang kuat

Kalau kita lihat belakangan ini aliran-aliran sesat seperti yang mengaku Nabi palsu atau aliran-aliran sesat belakangan ini, maka akan kita dapati tidak ada pengikutnya dari kalangan santri. Banyak yang dari sarjana maupun dari akademis namun tidak ada dari yang berlatar belakang pesantren. Karena di pesantren telah ditempa dengan akidah dan tauhid yang kuat.

Di pesantren diajari akidah 50 dengan aqidatul awam bahwa Allah mempunyai 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, 1 sifat jaiz. Rasul punya sifat wajib 4, sifat mustahil 4 dan sifat jaiz 1. Santri diajari aqidah dan tauhid bahwa segala sesuatu ini terjadi karena Allah yang mengatur.

Santri diajari bahwa Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga keluar dari pesantren sudah mempunyai akidah yang kuat yang tidak akan tergoyahkan oleh apapun.

Cinta agama, bangsa dan negara

Santri menyadari agama inilah yang menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat. Agama sangat penting, tanpa agama manusia hidup kehilangan arah. Sehingga santri akan memegang teguh agama dan akan membela agama sampai titik darah penghabisan. Andai ada orang yang menghina agama santri akan marah dan menggelegak darahnya.

Santri menyadari pula bahwa dia hidup di tanah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mana untuk mendirikannya dibutuhkan jutaan darah dari syuhada para pejuang. Santri menyadari bahwa yang memperjuangkan bangsa ini adalah para santri dan kyai yang berjuang sampai titik darah penghabisan.

Kalau tidak ada kyai dan para santri maka tidak ada pertempuran 10 November 1948 di Surabaya, yang mana menewaskan jendral nggris, Mallaby. Padahal Inggris adalah satu dari pemenang perang dunia kedua. Pertempuran 10 November ada karena ada resolusi jihad dari Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari yang mana mengobarkan semangat para kyai dan santri serta masyarakat surabaya dan sekitarnya.

Para kyai dan santri yang di luar Surabaya pada datang semangat berperang karena seruan resolusi jihad tersebut. Oleh karenanya santri wajib mencintai bangsa dan negaranya. Karena bangsa dan negara ini berdiri karena jasa para kyai dan santri.

Ingin Menjadi Orang yang bermanfaat

Siapapun santri pasti ingin menjadi orang yang bermanfaat. Sebab santri menyadari bahwa buat apa punya ilmu setinggi gunung sedalam lautan tapi tidak ada manfaatnya. Sehingga santri akan dengan senang hati jika ada anak yang ingin ngaji dengannya, meski hanya ngaji alif ba ta. Karena artinya dia sudah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Santri tidak akan malu dan gengsi meski di pondok ngaji kitab Ihya Ulumudin namun masyarakat ingin ngaji kitab Safinatun Najah, bahkan malah seneng ilmunya dibutuhkan dan bermanfaat. Tidak ada satu santri pun yang hidupnya tidak ingin menjadi bermanfaat, semua ingin bermanfaat, karena santri sudah ditanamkan sejak di sini di pesantren bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, bahkan santri yang hanya ngaji sedikit di pesantren dan sewaktu ngaji ngantuk-ngantukan tetep ingin menjadi santri yang bermanfaat buat yang lain.

Sehingga tak jarang santri setelah terjun di masyarakat, dia malah senang bila bisa ngajar ngaji orang lain, meski anak-anak, meski dasar alif ba ta karena itu berarti dirinya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Buat apa ilmu tinggi tapi tidak ada manfaatnya, mending ilmu sedikit tapi ada manfaatnya ada berkahnya buat diri sendiri dan buat orang lain, itu lah santri. Pribadi yang sederhana namun mempunyai cita-cita yang mulia menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Mencintai Kiyai sepenuh hati

Seorang santri pasti mencintai kiyai sebagai gurunya, karena seseorang kelak di akhirat akan bersama orang yang dicintai. Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa orang akan bersama orang yang ia cintai. Di luar hadis tersebut, Anas mengungkapkan bahwa ia mencintai Rasulullah, mencintai Abu Bakar, mencintai Umar bin Khattab. Meskipun amalnya belum seperti mereka, tetapi dengan bekal cintanya kepada mereka, sahabat berjuluk khadim Rasulullah itu berharap kelak di surga bisa bersama mereka.

Penulis novel-novel bertema cinta itu juga mencontohkan sosok Imam Syafii. Mengutip syairnya, ia menjelaskan bahwa ulama mujtahid itu begitu tawadlu sehingga mengaku bukan bagian dari orang saleh, tetapi ia mencintai mereka.   “Aku mencintai orang-orang shaleh, dan aku bukan dari mereka. Semoga dengan mencintai mereka aku mendapat syafaat dari mereka,” kata alumnus Pondok Pesantren Mranggen, Demak itu menerjemahkan syair Imam Syafii.

Selamat hari santri!

Ustadz Mahrizal

Sumber: amahrizal.wordpress

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *