Kegiatan Pasca Liburan Semester Genap Tahun 2016

Pasca ujian semester akhir tahun ajaran 2016 dan menjelang liburan, Pondok mengadakan beberapa kegiatan dan beberapa lomba yang diikuti oleh semua siswa dan santri. Setiap kegiatan mereka ikuti sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh panitia, semua kegiata20160611_082214npun berjalan sangat sukses dan lancer. Diantara kegiatan yang diselenggarakan seperti baca Al-Qur’an bersama dan lomba yang diadakan
adalah kontes drama, cerdas cermat, lomba drama dimana santri harus menentu
kan tema drama yang akan diperlihatkan di hadapan santri dan mereka aktif dalam berlatih drama. Aksi konyol sering mereka tampilkan untuk menghibur penonton, selain drama masih ada beberapa lomba yang lain.

Lomba Pidato Yang Diikuti oleh semua Santri dan tidak terkecuali para asatidnya  yang ikut berpartisipasi dalam mengikuti lomba t
ersebut. Tujuan dari pidato sendiri ialah Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa 20160604_124259hal berikut ini :
1. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
2. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.

Setiap lomba yang telah diadakan tidak lupa pengasuh sekaligus ketua yayasan pondok pesantren alqodiriyah juga ikut berpartisipasi dalam pemberian hadiah bagi yang menang dalam setiap lomba yang telah diikuti berbagai macam hadiahpun diberikan kepada seluruh siswa siswi yang telah memenangkan setiap lomba yang telah diadakan tersebut Satupersatu hadiah diberiikaIMG_6856n. Dan sehari sebelum liburan pihak yayasan juga mengadakan acara buka bersama dimasjid sekaligus tasyakuran karena sisw
a siswi telah melaksanakan ujian akhir semester dan sekaligus pembagian rapot dan sekaligus pengumuman liburan ,acara buka puasapun berjalan sangat meriah walaupun dalam sebuah kesederhanaan tapi mereka sangat menikmati itu karena bukan makanannyalah yang mereka cari melainkan disaat-saat seperti inilah mereka bisa berkumpul menjadi satu keluara besar. Pada akhir kesempatan sebelum liburan pengasuh mengajak semua santri foto bersama pengasuhpun bersikap adil pada semua santri putra dan putrid, satu persatu santri putra foto dengan pengasuh dan pada akhir berfoto semua santri foto bersama-sama tidak terkecuali santri putrid pun ikut berfoto bersama. Santri pun merasa sangat senang dengan diajaknya mereka foto bersama pengasuh karena hal ini tidak pernah rasakan foto bersama dengan guru besar

 

Posted in Seputar Pesantren | Leave a comment

BERKARYA

Berkarya Berjuang

Berkarya mungkin kalian bertanya-tanya mengapa saya menngambil tema ini….?

Yang pertama karena pada zaman ini karena orang orang-orang sibuk mencari pekerjaan diiluar dirnya sendiri padahal masih banyakyang bisa ia lakukan yang disitu dapat menimbulkan hasil, bukan hanya uang ataupun jasa tapi uga dapat menimbulkan kemanfaatan bagi diri kita sendiri dan  orang lain. Apakah itu? Adalah berkarya, sebenarnya banyak yang kita lakukan tanpa kita harus susah payah menghabiskan tenaga kita. Yakni dengan cara mengandalkan pikiran dan otak seperti contoh mengarang buku.

Mengarng buku atau dapat disebut juga dengan penulis yang disitu kita hanya mengandalkan otak atau pikiran yang disitu kita tidak usah bersusah payah untuk menghabiskan tenaga kita, kita cukup hanya dengan mengandalkan dan mengasah kemampuan kita. Karya adalah suatu ciptaan manusia yang disitu dapat bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Disini ada suatu cerita yang dimana cerita ini mengkisahkan tentang seorang kyai yang disitu beliau juga dikenal sebagai sikutu buku beliau bernama gus ainur rofiq atau biasa dipanggil dengan kyai rofiq. Beliau adalah anak terakhir dari delapan bersaudara yang ayahnya bernama K.H. Sayyid ahmad dan ibunya bernama nyai H. hamidah. Kyai rofiq mulai mengarang buku dari kelas 1 SMP, bukunya yang pertama yang berjudul 3 kyai banyuwangi dan sampai sekarang beliau memiliki 5 buku yang dikarang diantaranya adalah tombo ati, muslim jatuh cinta dll. Sekarang beliau merintis pondok barunya didaerah kedayunan, kabat banyuwangi beliau merintis yayasan pondok modern sunni kabat. Dan sekaang ini beliau telah mendirikan 18 sekolahan dan 5 pondok pesantren yang menyebar di berbagai wilayah banyuwangi dan bahkan diluar provinsi yang berlatar belakang ahlusunnah waljamaah. Beliau mendirikan banyak sekolahan dan pondok karena beliau ingin yang berjuang pada jalan allah SWT. Beliau ingin mendirikan dan membangun islam yang damai yang sekarang ini dirusak oleh aliran lain seperti wahabi, syi’ah, dan isis maka dari itu beliau berjuang untuk membela agama yang beraliran ahlusunnah waljamaah yang disitu ingin memberantas aliran-aliran sesat yang selama ini verkembang pesat diindonesia khususnya tanah jawa hari demi hari dan minggu demi minggu beliau lalui tanpa rasa letih dan lelah demi tujuanya yang besar. Disamping beliau berjuang beliau juga berkarya salah satunya dengan terus berkarya dengan cara membangun sekolah-sekolah dan pondok pesantren yang berlatar belakang ahlusunnah waljamaah.

Lewat sekolah-sekolah dan pondok pesantren beliau ingin menanamkan ajaran islam yang benar menurut aliran ahlusunnah waljamaah terhadap santri-santri agar tidak terjerumus kedalam ajaran yang tidak benar dan melawan atau memberantas ajaran-ajaran sesat sebelum menyebar luas ke daearah-daerah Indonesia.

Posted in Yayasan | Leave a comment

Pesantren Didorong Jadi Contoh Pendidikan Islam Moderat

JAKARTA, KOMPAS — Pendidikan Islam di Indonesia terbilang unik. Bukan hanya karena cikal bakalnya dari pesantren yang memiliki ikatan sejarah kuat, tetapi juga tumbuh di masyarakat yang beragam. Karena itu, pesantren diharapkan bisa menjadi contoh pendidikan keagamaan di Indonesia.

Anak-anak bermain di halaman Pesantren Bidayatul Hidayah di Desa Cigedang, Kecamatan Luragung, Kuningan, Jawa Barat, Kamis (23/7). Penggagas dan pendanaan pembangunan pesantren tersebut berasal dari perantau.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTAAnak-anak bermain di halaman Pesantren Bidayatul Hidayah di Desa Cigedang, Kecamatan Luragung, Kuningan, Jawa Barat, Kamis (23/7). Penggagas dan pendanaan pembangunan pesantren tersebut berasal dari perantau.

Apalagi mengingat pesantren yang lahir dan berkembang di masyarakat tidak hanya menekankan pada pengetahuan keagamaan Islam, tetapi juga ilmu pengetahuan umum. Sayangnya, banyak pesantren sulit berkembang karena mayoritas berada di pedesaan dan peserta didiknya dari keluarga miskin.

Hal ini mengemuka dalam diskusi pendidikan “Mewujudkan Pendidikan Islam yang Unggul, Moderat, dan Menjadi Rujukan Dunia dalam Integrasi Ilmu Agama, Pengetahuan, dan Teknologi” yang diselenggarakan Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), Selasa (22/12), di Kementerian Agama, Jakarta.

“Ini tantangan kita. Masalahnya ada pada anggaran pendidikan bagi pesantren dalam hal ini madrasah. Alokasi anggaran belum cukup,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin.

Multiperan

Guru Besar Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Abdurrahman Mas’ud menjelaskan secara historis, pendidikan Islam di Indonesia dimulai dari pesantren yang merupakan lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya menjadi penyelenggara pendidikan keagamaan Islam, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan menjadi pusat peradaban Islam. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren berkontribusi besar dalam memberikan layanan pendidikan keagamaan Islam terutama di daerah pedesaan dengan menjangkau anak dari keluarga miskin.

Pesantren yang semula fokus pada pendidikan agama Islam kemudian menjadi madrasah dengan memasukkan ilmu pengetahuan umum. Dalam perkembangannya, banyak pesantren mendirikan sekolah. Sebagian sekolah itu berkembang menjadi sekolah Islam terpadu yang menyelenggarakan sekolah mulai jenjang pra sekolah hingga sekolah menengah dan memadukan pendidikan umum di sekolah di pagi hari dan pendidikan keagamaan Islam di sore dan malam hari.

Sejumlah santri memindahkan kayu yang akan digunakan untuk membangun asrama Pondok Pesantren Al Mumtaz di Desa Beji, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Jumat (18/9). Kegiatan itu untuk mengajarkan sikap rajin dan mandiri agar kelak mereka dapat berkembang menjadi wirausahawan yang tangguh.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOSejumlah santri memindahkan kayu yang akan digunakan untuk membangun asrama Pondok Pesantren Al Mumtaz di Desa Beji, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Jumat (18/9). Kegiatan itu untuk mengajarkan sikap rajin dan mandiri agar kelak mereka dapat berkembang menjadi wirausahawan yang tangguh.

“Sebagian pesantren menggabungkan kedua jenis kegiatan itu dalam bentuk sekolah berasrama. Sistem yang ada di madrasah, yang berakar dari budaya pesantren, telah banyak diadopsi oleh sekolah-sekolah umum yang berciri khas Islam,” kata Abdurrahman.

Dengan pertumbuhannya yang cepat, peningkatan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan ditanggapi pemerintah dengan memasukkan program pendidikan keagamaan Islam dan madrasah menjadi satu bagian sistem pendidikan nasional.

Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pesantren juga memberikan keterampilan tepat guna bagi santri dan masyarakat lingkungannya. Tetapi lama kelamaan peran ini berkurang karena pesantren tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi. Akibatnya, program yang ditawarkan tidak menarik lagi. Sarana prasarana pendukungnya pun terbatas. Di sisi lain, semakin banyak santri memperoleh kesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Sebagai pusat peradaban Islam, pesantren berhasil memberi warna pada pengembangan peradaban Islam, bahkan peradaban Melayu dan Jawa. Ini dilakukan melalui tiga cara. Pertama, digunakannya media pembelajaran bahasa Melayu dan Jawa di pondok pesantren. Melalui media ini, pesantren menjadi sarana transit pemikiran Islam Timur Tengah. Pesantren juga memiliki tradisi debat dan diskusi sehingga terjadi proses dialektika antara pemikiran keagamaan dan pemikiran rasional dunia Barat, juga antara guru dan murid sehingga menghasilkan tradisi berkarya. Pesantren juga memiliki keunggulan menghasilkan cetak biru peradaban Islam karena jaringan keilmuan santrinya tersebar di Asia Tenggara.

Namun, keunggulan pesantren itu meredup. Salah satu penyebabnya adalah melalui dialektika keilmuan, terjadi juga pertarungan paradigma dalam studi Islam antara Timur dan Barat yang meningkatkan dialektika pengembangan keilmuan Islam. Sayangnya, ini tidak diikuti dengan peningkatan tradisi menulis pada santri.

Di sisi lain, pendidikan Islam sebagai produk pengembangan pesantren telah berkembang pesat dan menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Dengan didukung sekitar 75.000 madrasah, 14.000 pesantren, 676 perguruan tinggi, sistem pendidikan Islam di Indonesia menjadi sistem pendidikan Islam yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan modal itu, ACDP merekomendasikan perlunya kebangkitan Islam di Indonesia melalui peran pesantren.

  • 0
  • 0
  • 6
Posted in Life Skill | Leave a comment

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

July 15th, 2015 by Abu Muawiah

Kaidah Ketiga

Posted in Sekolah | Leave a comment

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

July 8th, 2015 by Abu Muawiah

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Posted in Materi, Pondok | Leave a comment